Partisipasi Publik terhadap Kesimpangsiuran Informasi melalui Penyelenggaraan Event “Tur bersama 11 Lembaga Arsitektur Melihat RPTRA di Jakarta”

Melati Mediana Tobing

Abstract


Pembangunan ruang terbuka ramah anak (RPTRA) di Jakarta melibatkan 11 lembaga arsitektur lokal terkemuka tanpa imbalan jasa. Mereka bekerja cepat, melakukan proses perencanaan selama 3-4 bulan. Pada tahun2016, 188 RPTRA  berhasil  dibangun dan dioperasikan di seluruh Jakarta. Ironinya, pembangunan yang sebagian menggunakan dana CSR tersebut menuai kritik dan ketidakpercayaan sebagian masyarakat. Konteks situasi politik saat itu memang cukup panas. Berbagai upaya dilakukan lawan politik menjatuhkan petahana melalui hoax. Untuk menghindari kecaman dan sentimen negatif publik terhadap kinerja pemerintah, maka arsitek dari 11 lembaga tersebut berkumpul  menjelaskan  kronologi pembuatan  RPTRA  kepada publik dan media. Melalui  event “Tur Bersama 11 Lembaga Arsitektur Melihat RPTRA di Jakarta” masyarakat luas memperoleh informasi real dari berbagai  publisitas  media.  Sejalan  dengan  dimensi  sociopetal  dalam  teori proksemik,  arsitek  idealis  tersebut memiliki hal-hal yang dianggap searah dengan program pembangunan RPTRA. Keterlibatan mereka dalam pembangunan melalui mekanisme sistem yang transparan sejalan dengan idealisme mereka untuk membangun kota yang dicintai. Partisipasi public ini sekaligus menghentikan kesimpangsiuran informasi, menghapus fitnah dan kritik terhadap  pembangunan  RPTRA. Tulisan  ini menjelaskan  satu kasus yang pernah dilakukan  untuk menangkal  hoax,  melalui  partisipasi  publik  dalam  sebuah  event,  dengan  sudut  pandang  arsitek  RPTRA, pemrakarsa dan peserta event.


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.25008/pknk.v1i1.129

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Prosiding Konferensi Nasional Komunikasi



 

 


Indexed by: 

Google Scholar             


View My Stats